Category Archives: Teori Arus Lalu-lintas

Kajian Karakteristik Dan Perilaku Lalu-lintas Angkutan Umum Jenis Minibus dan Pengaruhnya Terhadap Kinerja Lalu-Lintas (Studi Kasus Jl. Ciledug Raya) – Part: 2

Tulisan ini adalah lanjutan dari bagian sebelumnya (Part-1).

d.   Perilaku Belok Kanan dan Berputar Balik

Jumlah angkutan umum minibus yang belok kanan dan berputar balik di lokasi studi adalah 48,6% dibandingkan total arus kendaraan roda-4 yang belok kanan dan berputar balik. Angkutan umum yang belok kanan dan berputar balik di lokasi studi, seluruhnya adalah angkutan umum trayek dari Jakarta, dengan komposisi terbesar (44,2%) oleh trayek Ciledug-Bintaro, selanjutnya Ciledug-Pesing (27,9%), Ciledug-Kebayoran Lama (17,4%), dan terakhir adalah Ciledug-Ciputat (10,5%). Rata-rata waktu tunggu untuk belok kanan adalah 8,8 detik, dengan waktu tunggu maksimum 57 detik. Sedangkan rata-rata waktu lintasan untuk belok kanan adalah 22,3 detik, dengan waktu lintasan maksimum 81 detik. Ditinjau menurut trayek, rata-rata waktu tunggu dan waktu lintasan tidak jauh berbeda antara angkutan umum trayek yang satu dengan yang lainnya, dengan kisaran rata-rata waktu tunggu antara 7,5 -12 detik, dan waktu lintasan antara 20,6 – 25,4 detik.

Rata-rata waktu tunggu untuk berputar balik adalah 24,4 detik, dengan waktu tunggu maksimum 55 detik. Ditinjau menurut trayek, tidak terdapat perbedaan yang berarti antara rata-rata waktu tunggu trayek yang satu dengan yang lainnya, dengan kisaran rata-rata waktu tunggu antara 22,7 – 24,9 detik.

e.   Perilaku Berjalan Lambat

Perilaku berjalan lambat didefinisikan sebagai perilaku angkutan umum minibus yang berjalan dengan kecepatan lebih kecil sama dengan 10 km/jam, tanpa adanya kendaraan lain di depan yang menghalangi pergerakan kendaraan tersebut. Jumlah angkutan umum minibus yang berjalan lambat di lokasi studi adalah sebanyak 14,6% dari total jumlah sampel. Rata-rata kecepatan angkutan umum minibus dalam berjalan lambat adalah 7,4 – 7,5 km/jam untuk 2 (dua) arah. Ditinjau menurut trayek, menunjukkan tidak ada perbedaan yang berarti antara kecepatan rata-rata trayek yang satu dengan yang lainnya dengan kisaran rata-rata kecepatan 6,5 – 8,5 km/jam. Kecenderungan penurunan kecepatan terjadi dari shift-1 ke shift-4, kecuali untuk trayek Ciledug- Cikokol justru cenderung meningkat pada arah pergerakan ke Timur (Jakarta).

f.    Kecepatan Rata-rata Arus Menerus

Kecepatan rata-rata angkutan minibus arus menerus, termasuk yang berhenti dan berjalan lambat, namun tidak termasuk yang belok kanan atau berputar balik. Kecepatan rata-rata angkutan umum minibus arus menerus adalah 6,4 Km/jam untuk arah ke Barat (Tangerang), dan 8,1 Km/jam untuk arah sebaliknya. Ditinjau menurut trayek, untuk arah pergerakan ke Barat (Tangerang), kecepatan rata-rata tertinggi dimiliki oleh angkutan umum trayek Ciledug-Kebayoran Lama, yakni 6,8 Km/jam, sedangkan terendah adalah trayek Ciledug-Ciputat, yakni 4,1 Km/jam. Untuk arah pergerakan ke Timur (Jakarta), kecepatan rata-rata tertinggi dimiliki oleh trayek Ciledug-Kunciran, yakni 13,5 Km/jam sedangkan terendah adalah trayek Ciledug-Pesing, yakni 5,9 Km/jam.

Baca lebih lanjut

2 Komentar

Filed under Perencanaan Angkutan Umum, Perilaku lalu-lintas Angkutan Umum, Sikap dan Perilaku Berlalu-lintas, Teori Arus Lalu-lintas

Kajian Karakteristik Dan Perilaku Lalu-lintas Angkutan Umum Jenis Minibus dan Pengaruhnya Terhadap Kinerja Lalu-Lintas (Studi Kasus Jl. Ciledug Raya) – Part: 1

Tulisan ini adalah ringkasan dari Thesis S2 Sipil Transportasi, UI, yang disajikan dalam 2 (dua) bagian. Ini adalah bagian-1/Part-1.

ABSTRAK

Kerugian ekonomi akibat  kemacetan  lalu lintas  di  wilayah Jabodetabek mencapai Rp.3 triliun/tahun untuk  biaya operasi kendaraan dan Rp. 2,5 triliun/tahun untuk waktu perjalanan. Dalam rangka menanggulangi permasalahan transportasi, termasuk kemacetan lalu-lintas di wilayah Jabodetabek, studi SITRAMP (2004) merekomendasikan perlunya program pengembangan angkutan umum. Rekomendasi ini perlu dicermati, mengingat adanya opini sebagian masyarakat yang menganggap angkutan umum khususnya jenis minibus (angkot) tidak efisien dan merupakan biang keladi kemacetan. Penelitian ini bertujuan mengkaji karakteristik dan perilaku angkutan umum jenis minibus dan pengaruhnya terhadap kinerja lalu-lintas, mengkaji karakteristik desain lingkungan sekitar dan pengaruhnya terhadap perilaku lalu-lintas, serta memberikan saran/masukan dalam penanganan masalah lalu-lintas. Sebagai studi kasus diambil segmen ruas jl. Ciledug Raya depan CBD Ciledug Mall, kota Tangerang.

Pengumpulan data perilaku lalu-lintas dilakukan melalui pengamatan video kamera. Metode analisa yang digunakan adalah analisa korelasi dan regresi, serta analisa deskriptif. Hasil analisa menunjukkan bahwa pengaruh perilaku lalu-lintas angkutan umum minibus, meliputi: jumlah kendaraan berhenti, dan kecepatan rata-rata angkutan umum minibus mempunyai korelasi kuat dan sedang terhadap variabel kecepatan kendaraan pribadi roda-4 arus menerus. Hasil analisa juga menunjukkan bahwa perilaku lalu-lintas angkutan umum minibus memiliki perilaku yang unik untuk setiap trayeknya, dan mempunyai pola berbeda untuk setiap arah pergerakannya, dimana motiv ekonomi, faktor kebiasaan, sistem budaya dan norma tidak tertulis yang berlaku di antara para pengemudi angkutan umum minibus, melatar belakangi perilaku lalu-lintas tersebut. Desain geometri simpang tidak sesuai dengan standar yang berlaku, berpotensi terhadap resiko kecelakaan, dan tidak sesuai dengan keberadaan rambu lalu-lintas terpasang. Disarankan penutupan bukaan median/ simpang, optimasi fungsi terminal dan halte, dan penataan ulang trayek/rute angkutan umum.

Kata Kunci : Perilaku Lalu-lintas, Angkutan Umum, Kinerja Lalu-lintas

Baca lebih lanjut

1 Komentar

Filed under Perencanaan Angkutan Umum, Perilaku lalu-lintas Angkutan Umum, Sikap dan Perilaku Berlalu-lintas, Teori Arus Lalu-lintas

Karakteristik Arus Lalu-lintas (Traffic Flow Characteristic)

A.    Karakteristik Utama Lalu-lintas
Terdapat 3 (tiga) karakteristik utama dari lalu-lintas, yaitu: arus, kecepatan dan konsentrasi (Daniel L dan Mathew J.H, 1975).
Arus Lalu-lintas atau Volume Lalu-lintas (Q) adalah jumlah kendaraan berdasarkan satuan waktu yang dirumuskan dengan:
q = N/T ……………………………………………………………….(1)
dimana:       N = jumlah kendaraan yang melintasi titik tertentu,
T = satuan waktu tertentu.
Umumnya dalam praktek teknik lalu-lintas, perhitungan arus atau volume lalu-lintas dilakukan dalam interval waktu 1 jam atau 15 menit.
Untuk lebih memahami tentang arus lalu-lintas, perlu juga dipahami tentang apa yang disebut sebagai “headway”.
“Headway” adalah ukuran interval waktu kedatangan antara kendaraan (diukur pada titik bagian depan kendaraan, misal: bumper) yang melintasi titik tertentu, yang dirumuskan dengan:
q = 1/ h …………………………………………………………(2)
dimana: q = arus/volume lalu-lintas,
h = mean headway.
Kecepatan rata-rata adalah ukuran yang penting dari kinerja lalu-lintas, yang dinyatakan dalam kilometer/jam atau mil/jam. Terdapat dua jenis kecepatan rata-rata, yakni: kecepatan sesaat rata-rata (spot speed) atau time mean speed, dan kecepatan rata-rata ruang (space mean speed) atau travel time.
Kecepatan sesaat rata-rata (spot speed) yaitu nilai rata-rata dari serangkaian kecepatan sesaat dari individu kendaraan yang melintasi titik tertentu pada suatu ruas jalan, yang dirumuskan dengan:
ut = 1/N Σ u(1-n) ……………………………………………..(3)
dimana:        ut = Kecepatan sesaat rata-rata (spot speed)
N = Jumlah kendaraan
u(1-n) = Kecepatan individu kendaraan.
Kecepatan sesaat digunakan untuk mengevaluasi kinerja sistem pengoperasian dari perangkat pengaturan lalu-lintas  dan teknik lalu-lintas, seperti: penentuan peraturan lalu-lintas dan peralatan kontrolnya, studi pada lokasi rawan kecelakaan, dan untuk menentukan elemen-elemen desain geometrik jalan raya.
Kecepatan rata-rata ruang (space mean speed) yaitu kecepatan rata-rata waktu tempuh kendaraan, yang dirumuskan dengan:

us = D / t …………………………………………………….. (4)
dimana:         us = Kecepatan rata-rata ruang (space mean speed)
D = Jarak
t =  waktu tempuh rata-rata

2 Komentar

Filed under Teori Arus Lalu-lintas